PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
“Keimanan dan
Ketakwaan”
Disusun
oleh :
Yulia septiani
SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI
KESATUAN
Jalan
Ranggagading No. 1 Bogor 16123
Telp. 0251-8337733, 8358787 Fax. 0251-831992
www.stiekesatuan.ac.id
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa,
karena berkat rahmatNya makalah ini dapat kami selesaikan sesuai yang
diharapkan. Dalam makalah ini kami membahas “Keimanan dan Ketakwaan”.Makalah
ini dibuat dalam rangka memperdalam pemahaman mahasiswa mengenai keimanan dan
ketakwaan serta mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
Semoga
makalah ini bermanfaat bagi semua kalangan khusus nya kepada para maahasiswa di
lingkungan STIE Kesatuan. Mohon maaf apabila ada kesalahan dalam penyusunan
makalah ini. Akhir kata, atas segala dkungan yang diberikan kami mengucapka
terima kasih kepada dosen pembimbing sehingga makalah ini disusun dengan baik
Bogor, September 2012
Penyusun
Kelompok 1
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Manusia dalam menjalani kehidupan selalu berinteraksi dengan
manusia lain atau dengan kata lain melakukan interaksi sosial. Dalam melakukan
interaksi sosial manusia harus memiliki akhlak yang baik agar dalam proses
interaksi tersebut tidak mengalami hambatan atau masalah dengan manusia lain.
Proses pembentuk akhlak sangat berperan dengan masalah keimanan dan ketakwaan
seseorang. Keimanan dan Ketakwaan seseorang berbanding lurus dengan akhlak
seseorang atau dengan kata lain semakin baik keimanan dan ketakwaan
seseorang maka semakin baik pula akhlak seseorang hal ini karena keimanan dan
ketakwaan adalah modal utama untuk membentuk pribadi seseorang. Keimanan dan
ketakwaan sebenarnya potensi yang ada pada manusia sejak ia lahir dan melekat
pada dirinya hanya saja sejalan dengan pertumbuhan dan
perkembangan seseorang yang telah terjamah oleh lingkungan sekitarnya maka
potensi tersebut akan semakin muncul atau sebaliknya
potensi itu akan hilang secara perlahan.
Saat ini keimanan dan ketakwaan telah dianggap sebagai hal
yang biasa, oleh masyarakat umum, bahkan ada yang tidak mengetahui sama sekali
arti yang sebenarnya dari keimanan dan ketakwaan itu, hal ini dikarenakan
manusia selalu menganggap remeh tentang hal itu dan mengartikan keimanan itu
hanya sebagai arti bahasa, tidak mencari makna yang sebenarnya dari arti
bahasa itu dan membiarkan hal tersebut berjalan begitu saja. Oleh karena
itu dari persoalan dan masalah-masalah yang terpapar diataslah yang
melatar belakangi kelompok kami untuk membahas dan mendiskusikan tentang
keimanan dan ketakwaan yang kami bukukan menjadi sebuah makalah kelompok.
1.2 Rumusan
Masalah
1.
Apa
pengertian iman?
2.
Bagaimana
wujud iman?
3.
Bagaimana
tanda-tanda orang yang beriman?
4.
Apa
pengertian takwa?
5.
Bagaimana
korelasi antara keimanan dan ketakwaan?
1.3 Tujuan
Masalah
1. Mendeskripsikan pengertian iman
2. Memaparkan wujud iman
3. Memaparkan tanda-tanda orang yang
beriman
4. Mendeskripsikan pengertian takwa
5. Menjelaskan korelasi antara keimanan
dan ketakwaan
1.4 Manfaat
1. Bagi penulis : melatih potensi
penulis dalam menyusun makalah
2. Bagi pembaca : dapat menambah pengetahuan tentang keimanan dan ketawaan
serta mengimplementasikannya dalam
kehidupan sehari-hari
BAB II
PEMBAHASAN
1. Pengertian
Iman
Iman menurut
bahasa adalah yakin, keimanan berarti keyakinan. Dengan demikian, rukun iman
adalah dasar, inti, atau pokok – pokok kepercayaan yang harus diyakini oleh
setiap pemeluk agama Islam. Kata iman juga berasal dari kata kerja amina-yu’manu – amanan yang berarti percaya.
Oleh karena itu iman berarti percaya menunjuk sikap batin yang terletak dalam
hati. Dalam surah al-Baqarah ayat 165 :
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ ۖ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ ۗ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ
جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ
Artinya
:
“Dan diantara manusia ada orang-orang yang
menyembah tandingan-tandingan selain
Allah; mereka mencintainya sebagaimana
mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya
kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim
itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa
kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya
(niscaya mereka menyesal).”
Dalam hadits
diriwayatkan Ibnu Majah Atthabrani,
iman didefinisikan dengan keyakinan dalam hati, diikrarkan dengan lisan, dan
diwujudkan dengan amal perbuatan (Al-Immaanu ‘aqdun bil qalbi waigraarun
billisaani wa’amalun bil arkaan). Dengan demikian, iman merupakan kesatuan atau
keselarasan antara hati, ucapan, dan laku perbuatan, serta dapat juga dikatakan
sebagai pandangan dan sikap hidup atau gaya hidup.
Definisi
Iman Secara Istilah Syar’iy
1)
Al-Imaam Ismaa’iil bin Muhammad
At-Taimiy rahimahullah berkata :
الإيمان في الشرع عبارة عن جميع الطاعات الباطنة والظاهرة
“Iman dalam pengertian syar’iy adalah satu perkataan yang
mencakup makna semua ketaatan lahir dan batin” [Al-Hujjah fii
Bayaanil-Mahajjah, 1/403].
An-Nawawiy
menukil perkataannya :
الإيمان في لسان الشرع هو التصديق بالقلب والعمل بالأركان
“Iman dalam istilah syar’iy adalah pembenaran dengan hati
dan perbuatan dengan anggota tubuh” [Syarh Shahih Muslim, 1/146].
2)
Imaam Ibnu ‘Abdil-Barr rahimahullah
berkata :
أجمع أهل الفقه والحديث على أن الإيمان قول وعمل، ولا عمل إلا
بنية
“Para ahli fiqh dan hadits telah sepakat bahwasannya iman
itu perkataan dan perbuatan. Dan tidaklah ada perbuatan kecuali dengan niat”
[At-Tamhiid, 9/238].
3)
Al-Imaam Ibnul-Qayyim rahimahullah
berkata :
حقيقة الإيمان مركبة من قول وعمل. والقول قسمان : قول القلب، وهو الاعتقاد، وقول اللسان، وهو التكلّم بكلمة
الإسلام. والعمل قسمان : عمل القلب، وهو نيته وإخلاصه، وعمل الجوارح. فإذا زالت
هذه الأربعة، زال الإيمان بكماله، وإذا زال تصديق القلب، لم تنفع بقية الأجزاء
“Hakekat iman terdiri dari perkataan dan perbuatan.
Perkataan ada dua : perkataan hati, yaitu i’tiqaad; dan perkataan lisan, yaitu
perkataan tentang kalimat Islam (mengikrarkan syahadat – Abul-Jauzaa’).
Perbuatan juga ada dua : perbuatan hati, yaitu niat dan keikhlasannya; dan
perbuatan anggota badan. Apabila hilang keempat hal tersebut, akan hilang iman
dengan kesempurnaannya. Dan apabila hilang pembenaran (tashdiiq) dalam hati,
tidak akan bermanfaat tiga hal yang lainnya” [Ash-Shalaah wa Hukmu Taarikihaa,
hal. 35].
Jadi,
dapat disimpulkan bahwa pengertian iman adalah pembenaran dengan segala
keyakinan tanpa keraguan sedikitpun mengenai yang datang dari Allah SWT dan
rasulNya.
2.
Wujud Iman
Akidah Islam dalam al-Qur’an disebut iman. Iman bukan hanya
berarti percaya, melainkan keyakinan yang mendorong seorang muslim untuk
berbuat. Oleh karena itu lapangan iman sangat luas, bahkan mencakup segala
sesuatu yang dilakukan seorang muslim yang disebut amal saleh.
Seseorang dinyatakan iman bukan hanya percaya terhadap
sesuatu, melainkan kepercayaan itu mendorongnya untuk mengucapkan dan melakukan
sesuatu sesuai dengan keyakinan. Karena itu iman bukan hanya dipercayai atau
diucapkan, melainkan menyatu secara utuh dalam diri seseorang yang dibuktikan
dalam perbuatannya.
Akidah Islam adalah bagian yang paling pokok dalam agama
Islam. Ia merupakan keyakinan yang menjadi dasar dari segala sesuatu tindakan
atau amal. Seseorang dipandang sebagai muslim atau bukan muslim tergantung pada
akidahnya. Apabila ia berakidah Islam, maka segala sesuatu yang dilakukannya akan
bernilai sebagai amaliah seorang muslim atau amal saleh. Apabila tidak
beraqidah, maka segala amalnya tidak memiliki arti apa-apa, kendatipun
perbuatan yang dilakukan bernilai dalam pendengaran manusia.
Akidah Islam atau iman mengikat seorang muslim, sehingga ia
terikat dengan segala aturan hukum yang datang dari Islam. Oleh karena itu
menjadi seorang muslim berarti meyakini dan melaksanakan segala sesuatu yang
diatur dalam ajaran Islam. Seluruh hidupnya didasarkan pada ajaran Islam.
Wujud
Iman menurut Hasan Al-Bana di antaranya:
1.
Ilahiyah : Hubungan dengan Allah
2.
Nubuwwah : Kaitan dengan Nabi, Rasul, kitab, dan
mukjizat
3.
Ruhaniyah : Kaitan dengan alam metafisik; Malaikat,
Jin, Syetan, Ruh
4.
Sam’iyah : Segala sesuatu yang bisa diketahui
melalui sam’i
3. Tanda
– Tanda Orang beriman
Al-Qur’an menjelaskan tanda-tanda
orang yang beriman sebagai berikut:
1. Jika disebut nama Allah, maka hatinya bergetar dan
berusaha agar ilmu Allah tidak lepas dari syaraf memorinya, serta jika
dibacakan ayat al-Qur’an, maka bergejolak hatinya untuk segera melaksanakannya
(al-Anfal: 2).
"Sesungguhnya
orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah
hati mereka. dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka
(karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.(yaitu) orang-orang
yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami
berikan kepada mereka
2. Senantiasa
tawakal, yaitu bekerja keras berdasarkan kerangka ilmu Allah, diiringi dengan
doa, yaitu harapan untuk tetap hidup dengan ajaran Allah menurut Sunnah Rasul (Ali
Imran: 120
al-Maidah:
12
|
[5:12] Dan sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian (dari) Bani Israil
dan telah Kami angkat diantara mereka 12 orang pemimpin dan Allah berfirman:
"Sesungguhnya Aku beserta kamu, sesungguhnya jika kamu mendirikan shalat
dan menunaikan zakat serta beriman kepada rasul-rasul-Ku dan kamu bantu
mereka dan kamu pinjamkan kepada Allah pinjaman yang baik {406} sesungguhnya
Aku akan menutupi dosa-dosamu. Dan sesungguhnya kamu akan Kumasukkan ke dalam
surga yang mengalir air didalamnya sungai-sungai. Maka barangsiapa yang kafir
di antaramu sesudah itu, sesungguhnya ia telah tersesat dari jalan yang
lurus.
|
at-Taubah: 52
|
[9:52] Katakanlah: "tidak ada yang kamu tunggu-tunggu
bagi kami, kecuali salah satu dari dua kebaikan {646}. Dan Kami
menunggu-nunggu bagi kamu bahwa Allah akan menimpakan kepadamu azab (yang
besar) dari sisi-Nya. Sebab itu tunggulah, sesungguhnya kami menunggu-nunggu
bersamamu."
|
Ibrahim: 11
|
[14:11] Rasul-rasul mereka berkata kepada mereka: "Kami tidak lain
hanyalah manusia seperti kamu, akan tetapi Allah memberi karunia kepada siapa
yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Dan tidak patut bagi kami
mendatangkan suatu bukti kepada kamu melainkan dengan izin Allah. Dan hanya
kepada Allah sajalah hendaknya orang-orang mukmin bertawakkal.
|
Mujadalah: 10
|
[58:10] Sesungguhnya pembicaraan rahasia itu adalah dari syaitan, supaya
orang-orang yang beriman itu berduka cita, sedang pembicaraan itu tiadalah memberi
mudharat sedikitpun kepada mereka, kecuali dengan izin Allah dan kepada
Allah-lah hendaknya orang-orang yang beriman bertawakkal.
|
3. Tertib dalam
melaksanakan shalat dan selalu menjaga pelaksanaannya
al-Anfal: 3
Itulah orang-orang yang beriman dengan
sebenar-benarnya
Bagaimanapun
sibuknya, kalau sudah masuk waktu shalat, dia segera shalat untuk membina
kualitas imannya.
4. Menafkahkan rezki yang diterimanya (al-Anfal: 3 dan
al-Mukminun:4). Hal ini dilakukan sebagai suatu kesadaran bahwa harta yang
dinafkahkan di jalan Allah merupakan upaya pemerataan ekonomi, agar tidak
terjadi ketimpangan antara yang kaya dengan yang miskin.
5. Menghindari perkataan yang tidak bermanfaat dan
menjaga kehormatan (al-Mukminun: 3,5). Perkataan yang bermanfaat atau
yang baik adalah yang berstandar ilmu Allah, yaitu al-Qur’an menurut Sunnah
Rasulullah.
6. Memelihara amanah dan menepati janji (al-Mukminun:
6). Seorang mu’min tidak akan berkhianat dan dia akan selalu memegang amanah
dan menepati janji.
7. Berjihad di jalan Allah dan suka menolong
(al-Anfal:74). Berjihad di jalan Allah adalah bersungguh-sungguh dalam
menegakkan ajaran Allah, baik dengan harta benda yang dimiliki maupun dengan
nyawa.
8. Tidak meninggalkan pertemuan sebelum meminta izin
(an-Nur: 62). Sikap seperti itu merupakan salah satu sikap hidup seorang
mukmin, orang yang berpandangan dengan ajaran Allah menurut Sunnah Rasul.
4. Pengertian
Takwa
Suatu hari, seorang sahabat bertanya kepada Sayyidina
Ali bin Abi Thalib k.w. tentang apa itu taqwa. Beliau menjelaskan
bahwa taqwa itu adalah :
1. Takut (kepada Allah) yang diiringi
rasa cinta, bukan takut karena adanya neraka.
2. Beramal dengan Alquran yaitu
bagaimana Alquran menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari seorang manusia.
3. Redha dengan yang sedikit, ini
berkaitan dengan rezeki. Bila mendapat rezeki yang banyak, siapa pun akan redha
tapi bagaimana bila sedikit? Yang perlu disedari adalah bahawa rezeki tidak
semata-mata yang berwujud uang atau materi.
4. Orang yg menyiapkan diri untuk
“perjalanan panjang”, maksudnya adalah hidup sesudah mati.
Al- Hasan Al-Bashri menyatakan bahwa taqwa adalah takut dan menghindari apa yang
diharamkan Allah, dan menunaikan apa-apa yang diwajibkan oleh Allah. Taqwa juga
bererti kewaspadaan, menjaga benar-benar perintah dan menjauhi larangan.
5.
Koheresi Keimanan dan Ketakwaan
Keimanan pada keesaan Allah yang dikenal dengan istilah
tauhid dibagi menjadi dua, yaitu tauhid teoritis dan tauhid
praktis. Tauhid teoritis adalah tauhid yang membahas tentang keesaan Zat,
keesaan Sifat, dan keesaaan Perbuatan Tuhan. Pembahasan keesaan Zat, Sifat, dan
Perbuatan Tuhan berkaitan dengan kepercayaan, pengetahuan, persepsi, dan
pemikiran atau konsep tentang Tuhan. Konsekuensi logis tauhid teoritis adalah
pengakuan yang ikhlas bahwa Allah adalah satu-satunya Wujud Mutlak, yang
menjadi sumber semua wujud.
Adapun tauhid praktis yang disebut juga tauhid ibadah,
berhubungan dengan amal ibadah manusia. Tauhid praktis merupakan terapan dari
tauhid teoritis. Kalimat Laa ilaaha illallah (Tidak ada Tuhan selain Allah)
lebih menekankan pengertian tauhid praktis (tauhid ibadah). Tauhid ibadah
adalah ketaatan hanya kepada Allah. Dengan kata lain, tidak ada yang disembah
selain Allah, atau yang berhak disembah hanyalah Allah semata dan
menjadikan-Nya tempat tumpuan hati dan tujuan segala gerak dan langkah.
Selama ini pemahaman tentang tauhid hanyalah dalam
pengertian beriman kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa. Mempercayai saja keesaan
Zat, Sifat, dan Perbuatan Tuhan, tanpa mengucapkan dengan lisan serta tanpa
mengamalkan dengan perbuatan, tidak dapat dikatakan seorang yang sudah
bertauhid secara sempurna. Dalam pandangan Islam, yang dimaksud dengan tauhid
yang sempurna adalah tauhid yang tercermin dalam ibadah dan dalam perbuatan
praktis kehidupan manusia sehari-hari. Dengan kata lain, harus ada kesatuan dan
keharmonisan tauhid teoritis dan tauhid praktis dalam diri dan dalam kehidupan
sehari-hari secara murni dan konsekuen.
Dalam menegakkan tauhid, seseorang harus menyatukan iman dan
amal, konsep dan pelaksanaan, fikiran dan perbuatan, serta teks dan konteks.
Dengan demikian bertauhid adalah mengesakan Tuhan dalam pengertian yakin dan
percaya kepada Allah melalui pikiran, membenarkan dalam hati, mengucapkan
dengan lisan, dan mengamalkan dengan perbuatan. Oleh karena itu seseorang baru
dinyatakan beriman dan bertakwa, apabila sudah mengucapkan kalimat tauhid dalam
syahadat asyhadu allaa ilaaha illa Alah, (Aku bersaksi bahwa tidak
ada Tuhan selain Allah), kemudian diikuti dengan mengamalkan semua perintah
Allah dan meninggalkan segala larangan-Nya.
BAB
III
PENUTUP
Kesimpulan
Iman adalah adalah pembenaran dengan segala keyakinan tanpa
keraguan sedikitpun mengenai yang datang dari Allah SWT dan rasulNya.
Wujud
Iman ada 4, yakni:
1)
Ilahiyah:
Hubungan dengan Allah
2)
Nubuwwah:
Kaitan dengan Nabi, Rasul, kitab, dan mukjizat
3)
Ruhaniyah:
Kaitan dengan alam metafisik; Malaikat, Jin, Syetan, Ruh
4)
Sam’iyah:
Segala sesuatu yang bisa diketahui melalui sam’i
Tanda-tanda
orang yang beriman sebagai berikut:
1.
Jika
disebut nama Allah, maka hatinya bergetar dan berusaha agar ilmu Allah tidak
lepas dari syaraf memorinya, serta jika dibacakan ayat al-Qur’an, maka
bergejolak hatinya untuk segera melaksanakannya.
2.
Senantiasa
tawakal
3.
Tertib
dalam melaksanakan shalat dan selalu menjaga
4.
Menafkahkan
rezki yang diterimanya
5.
Menghindari
perkataan yang tidak bermanfaat dan menjaga kehormatan
6.
Memelihara
amanah dan menepati janji
7.
Berjihad
di jalan Allah dan suka menolong
8.
Tidak
meninggalkan pertemuan sebelum meminta izin
Taqwa adalah takut dan menghindari apa yang diharamkan
Allah, dan menunaikan apa-apa yang diwajibkan oleh Allah. Taqwa juga bererti
kewaspadaan, menjaga benar-benar perintah dan menjauhi larangan.
Seseorang baru dinyatakan beriman dan bertakwa, apabila sudah
mengucapkan kalimat tauhid dalam syahadat asyhadu allaa ilaaha illa
Alah, (Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah), kemudian diikuti
dengan mengamalkan semua perintah Allah dan meninggalkan segala larangan-Nya.
DAFTAR
PUSTAKA
Barata, Mappasessu, Muhammadong. 2009. Pendidikan
Agama Islam. Makassar: TimDosen UNM